Kemerdekaan diRI (di usia 63 tahun)

Perayaan kemerdekaan RI yang ke-63, sudah menjadi agenda rutin pemerintah, LSM, Organisasi dari pusat sampai
daerah, dari Sabang sampai Merauke ataupun menjadi objek komersil di berbagai stasion televisi nasional atau lokal, negeri atau swasta. Begitu meriah, mengagumkan dan  terkesan bahwa negara kita kaya raya, makmur, sejahtera di tengah kondisi nyata masyarakat yang resah dan ketakutan dengan harga bahan pokok naik.

Mungkin anda lebih tahu atau terlibat dalam merayaan Kemerdekaan RI yang mungkin belum terekspos dilayar kaca atau media massa. Hanya wacana, teori, atau mungkin sekedar napak tilas bangsa ini, lebih parahnya lagi pesta rakyat dengan hiburan-hiburan ’negatif’.

Tulisan ini tidak akan membicarakan rekontruksi bangsa atau membongkar keborokan negeri yang bergelar subur dan makmur, bangsa yang kaya akan suku bangsa dan agama, sumber minyak bumi yang cukup berlimpah dan pujian lain yang bisa melupakan apa kontribusi kita untuk negeri ini, tapi pada dasarnya tulisan ini mencoba merekonsepsi paradigma kemerdekaan diRI..

Buku-buku pelajaran SD yang mendoktrin pemikiran kita. Anda pasti masih ingat kalimat, “Saya membeli buku, Ibu membeli sayur ke pasar, Budi membeli sepeda” dan banyak kalimat sejenis yang tertulis di buku-buku untuk tingkat pelajar pemula (SD) di seluruh pelosok Negeri kita. Disadari atau tidak, penulis-penulis buku tersebut mendoktrin anak-anak menjadi warga konsumtif, membekukan kecerdasan, melemahkan kreatifitas atau bahkan mendidik menjadi warga miskin dan kaku.

Pola pikir yang terakumulasi samapai-sampai pejabat negara mengemas kalimat-kalimat di atas menjadi Study Banding  ke luar negeri dengan agenda rekreasi dan belanja yang lebih banyak dari pada acara wajibnya. Pejabat propinsi tidak jauh berbeda Study Banding di Pulau Bali, Batam atau bahkan pejabat kampus kita (UIN SGD Bandung) yang tak ada bedanya. Mati kratifitas, hilang gairah mencetuskan ide-ide brilyan, lemah dalam memulai hal positif, hanya mampu menunggu hasil jadi, mengkonsumsi hasil produksi pemikiran orang lain.

 Indonesia, Pejabat, Birokrat, Pegawai Negeri Sipil, pengusaha, masyarakat atau termasuk ‘pejabat rektorat’, mungkin masih tertidur lelap ketika menginjak usia Indonesia 63 tahun, dengan cerita pujian-pujian, nyanyi-nyanyian orang tua kita selama ini yang terus turun temurun, bahwa Indonesia subur, makmur, kaya, raya dan dirasakan cukup, habis ketika bersyukur. Sekalipun tidurnya kadang-kadang diganggu oleh beberapa aktivis mahasiswa/organisasi, para pengamat politik, ekonom dan para komentator kenegaraan. Mungkin semua itu baru dianggap gangguan nyamuk yang bisa diusir oleh obat nyamuk dengan berbagai merc pilihan.

Bangunkan diRI, mereka, sadarkan! Saat ini, isi rumah yang bernama Indonesia telah habis dijarah oleh tamu-tamu asing yang berselimut kata kontraktor, investor, atau pemodal asing hingga kita tidak punya apa-apa lagi, dijual oleh oknum yang selalau mengatasnamakan ‘demi masyarakat’, hutan yang sudah habis dengan kasus illegal loging, minyak bumi tak meyisakan keuntungan bagi Indonesia, Habis demi kepentingan pribadi. Tidak jauh berbeda dengan zaman kolonial Belanda, hasil jajahan dibangun menjadi negara kincir angin, menyisakan ampas-ampas harta negara, tambang emas di ujung timur Indonesia. Wajah-wajah bule yang berada di ruangan mewah, kendaraan ber-AC, makanan terjamin, perkomplekan yang bisa disebut sumber emas dunia, tapi berbeda kondisinya dengan orang kulit hitam saudara kita yang tinggal berdampingan dengan ‘surga dunia’ itu, mereka menderita busung lapar, buta huruf, miskin, tinggal di gubuk yang memprihatinkan.

Sadarkan diRI! rumah kita sudah diduduki majikan-majikan sipit, majikan-majikan imporan, kita tak jauh beda sebagai pembokat di rumah sendiri, coba kita lihat para pembantu di rumah – rumah mewah, supir di mobil mewah, cleaning service di mall-mall besar, mereka semua adalah warga asli Indonesia yang hidup di bawah telunjuk majikan yang tak ber-KTP Indonesia, tertunduk patuh duduk dilantai dengan pakaian compang – camping dihadapan singgasana yang diduduki penjajah gaya baru.

Sadarkan diRI, kita tak jauh berbeda dengan ‘pelacur’ penjual kepuasan fisik yang hanya dimanfaatkan sementara, kita sangat jauh di bawah standar masyarakat madani, jauh dengan standar kehidupan negara tetangga. Merdeka itu baru ‘katanya’_______________________________________.

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s