LEMBAGA PERS MAHASISWA SYARIAH DAN HUKUM (LEPASH)

KEPUTUSAN

SENAT MAHASISWA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Nomor : 26/B/KPTS/SMF-SH/UINSGD/I/2009

TENTANG

LEMBAGA PERS MAHASISWA SYARIAH DAN HUKUM (LEPASH)

SENAT MAHASISWA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Menimbang :

a. bahwa agar pelaksanaan program kerja Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung berjalan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya;

b. bahwa peran pers mahasiswa merupakan bagian penting dari pengembangan intelektual;

c. bahwa lembaga pers mahasiwa memerlukan elemen penting dalam menunjang berjalannya perkembangan pers di lingkungan mahasiswa;

d. bahwa perkembangan pers mahasiswa disesuaikan dengan aturan yang berlaku yang senafas dengan tujuan reformasi; dan

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu ditetapkan lembaga pers mahasiswa yang legitimite.

Mengingat :

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers;

2. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 37 Tahun 2000 tentang Petunjuk Organisasi Departemen Agama;

3. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 3 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama;

4. SK Dirjen PTAI No Dj.I/253/2007 BAB III Pasal 4 ayat (5) tentang bentuk atau badan kelengkapan organisasi kemahasiswaan;

5. SK Rektor Nomor : Un.05/E/PP.00.9/70/2008 tentang Pedoman Organisasi Kemahasiswaan (POK) UIN SGD Bandung; dan

6. SK Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum No : 25/B/KPTS/SMF-SH/UINSGD/XII/2008 tentang anggota tim redaksi Pers Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Memperhatikan :

1. Hasil pelatihan jurnalistik Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum yang dilaksanakan pada bulan Nopember 2008;

2. Rapat pimpinan Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum pada bulan Desember 2008; dan

3. Rapat koordinasi dengan peserta pelatihan jurnalistik

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

1. Lembaga Pers Mahasiswa Syariah dan Hukum atau disingkat LEPASH sebagai Badan Semi Otonom (BSO) resmi di bawah koordinasi Bidang Pengembangan Pers Mahasiswa Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung;

2. Pengurus LEPASH sebagaimana terlampir; dan

3. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan ditinjau ulang apabila terdapat kekeliruan.

Ditetapkan di Bandung

Pada Tanggal 07 Januari 2009

Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum

ttd

Baca lebih lanjut

Iklan

PERJUANGAN SEPERTI APA DARI KITA UNTUK PALESTINA…..???

FOTO AGRESI ISRAEL Baca lebih lanjut

PENGUMUMAN MAHASISWA YANG LULUS PELATIHAN JURNALISTIK

SURAT KEPUTUSAN
No : 25/B/KPTS/SMF-SH/UINSGD/XII/2008

Bismillahirrahmaanirrahim.
Assalamu’alaikum Wr. Wb

Setelah menempuh proses pelatihan jurnalistik dasar dan penilaian sesuai ketentuan yang berlaku, maka Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung memutuskan nama-nama yang terlampir merupakan mahasiswa yang lulus menjadi anggota tim redaksi Pers Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Untuk agenda selanjutnya yaitu pembuatan nama lembaga pers, pembentukan kepengurusan dan kelengkapan administrasi lainnya akan diberitahukan menyusul.
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan ditinjau ulang apabila terdapat kekeliruan.

Billahitaufiq wal Hidayah
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Bandung, 15 Desember 2008
SENAT MAHASISWA FAKULTAS
SYARIAH DAN HUKUM

DADANG JAENUDIN
KETUA UMUM

Tembusan:
1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung
2. Arsip

Lampiran

MAHASISWA YANG LULUS
MENJADI ANGGOTA TIM REDAKSI PERS MAHASISWA
SENAT MAHASISWA FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

NO NAMA PESERTA KETERANGAN
1 ACEP BAHRUL RIVA’I LULUS
2 AJENG ARISTANTIA LULUS
3 ANWAR LULUS BERSYARAT
4 ASEP GUNAWAN AL-FITRI LULUS
5 ASEP PANJI SUCITRA LULUS
6 ELAN JAELANI LULUS
7 GODI RANGGA BUDY ANSHORY LULUS
8 HENI HENDRAYANI LULUS BERSYARAT
9 IMAS JAMILIYAH LULUS
10 M.IQBAL LULUS
11 MARDIANA ALI LULUS BERSYARAT
12 NENDEN KOMALASARI LULUS
13 NENENG SOLIHAH LULUS BERSYARAT
14 NENG PIA LULUS
15 NICKY NAKIYAH LULUS
16 ROFIUDIN LULUS BERSYARAT
17 UJANG ACENG RIYADIN LULUS BERSYARAT

Kemerdekaan diRI (di usia 63 tahun)

Perayaan kemerdekaan RI yang ke-63, sudah menjadi agenda rutin pemerintah, LSM, Organisasi dari pusat sampai
daerah, dari Sabang sampai Merauke ataupun menjadi objek komersil di berbagai stasion televisi nasional atau lokal, negeri atau swasta. Begitu meriah, mengagumkan dan  terkesan bahwa negara kita kaya raya, makmur, sejahtera di tengah kondisi nyata masyarakat yang resah dan ketakutan dengan harga bahan pokok naik.

Mungkin anda lebih tahu atau terlibat dalam merayaan Kemerdekaan RI yang mungkin belum terekspos dilayar kaca atau media massa. Hanya wacana, teori, atau mungkin sekedar napak tilas bangsa ini, lebih parahnya lagi pesta rakyat dengan hiburan-hiburan ’negatif’.

Tulisan ini tidak akan membicarakan rekontruksi bangsa atau membongkar keborokan negeri yang bergelar subur dan makmur, bangsa yang kaya akan suku bangsa dan agama, sumber minyak bumi yang cukup berlimpah dan pujian lain yang bisa melupakan apa kontribusi kita untuk negeri ini, tapi pada dasarnya tulisan ini mencoba merekonsepsi paradigma kemerdekaan diRI..

Buku-buku pelajaran SD yang mendoktrin pemikiran kita. Anda pasti masih ingat kalimat, “Saya membeli buku, Ibu membeli sayur ke pasar, Budi membeli sepeda” dan banyak kalimat sejenis yang tertulis di buku-buku untuk tingkat pelajar pemula (SD) di seluruh pelosok Negeri kita. Disadari atau tidak, penulis-penulis buku tersebut mendoktrin anak-anak menjadi warga konsumtif, membekukan kecerdasan, melemahkan kreatifitas atau bahkan mendidik menjadi warga miskin dan kaku.

Pola pikir yang terakumulasi samapai-sampai pejabat negara mengemas kalimat-kalimat di atas menjadi Study Banding  ke luar negeri dengan agenda rekreasi dan belanja yang lebih banyak dari pada acara wajibnya. Pejabat propinsi tidak jauh berbeda Study Banding di Pulau Bali, Batam atau bahkan pejabat kampus kita (UIN SGD Bandung) yang tak ada bedanya. Mati kratifitas, hilang gairah mencetuskan ide-ide brilyan, lemah dalam memulai hal positif, hanya mampu menunggu hasil jadi, mengkonsumsi hasil produksi pemikiran orang lain.

 Indonesia, Pejabat, Birokrat, Pegawai Negeri Sipil, pengusaha, masyarakat atau termasuk ‘pejabat rektorat’, mungkin masih tertidur lelap ketika menginjak usia Indonesia 63 tahun, dengan cerita pujian-pujian, nyanyi-nyanyian orang tua kita selama ini yang terus turun temurun, bahwa Indonesia subur, makmur, kaya, raya dan dirasakan cukup, habis ketika bersyukur. Sekalipun tidurnya kadang-kadang diganggu oleh beberapa aktivis mahasiswa/organisasi, para pengamat politik, ekonom dan para komentator kenegaraan. Mungkin semua itu baru dianggap gangguan nyamuk yang bisa diusir oleh obat nyamuk dengan berbagai merc pilihan.

Bangunkan diRI, mereka, sadarkan! Saat ini, isi rumah yang bernama Indonesia telah habis dijarah oleh tamu-tamu asing yang berselimut kata kontraktor, investor, atau pemodal asing hingga kita tidak punya apa-apa lagi, dijual oleh oknum yang selalau mengatasnamakan ‘demi masyarakat’, hutan yang sudah habis dengan kasus illegal loging, minyak bumi tak meyisakan keuntungan bagi Indonesia, Habis demi kepentingan pribadi. Tidak jauh berbeda dengan zaman kolonial Belanda, hasil jajahan dibangun menjadi negara kincir angin, menyisakan ampas-ampas harta negara, tambang emas di ujung timur Indonesia. Wajah-wajah bule yang berada di ruangan mewah, kendaraan ber-AC, makanan terjamin, perkomplekan yang bisa disebut sumber emas dunia, tapi berbeda kondisinya dengan orang kulit hitam saudara kita yang tinggal berdampingan dengan ‘surga dunia’ itu, mereka menderita busung lapar, buta huruf, miskin, tinggal di gubuk yang memprihatinkan.

Sadarkan diRI! rumah kita sudah diduduki majikan-majikan sipit, majikan-majikan imporan, kita tak jauh beda sebagai pembokat di rumah sendiri, coba kita lihat para pembantu di rumah – rumah mewah, supir di mobil mewah, cleaning service di mall-mall besar, mereka semua adalah warga asli Indonesia yang hidup di bawah telunjuk majikan yang tak ber-KTP Indonesia, tertunduk patuh duduk dilantai dengan pakaian compang – camping dihadapan singgasana yang diduduki penjajah gaya baru.

Sadarkan diRI, kita tak jauh berbeda dengan ‘pelacur’ penjual kepuasan fisik yang hanya dimanfaatkan sementara, kita sangat jauh di bawah standar masyarakat madani, jauh dengan standar kehidupan negara tetangga. Merdeka itu baru ‘katanya’_______________________________________.